Tanggal 10 Februari 1528, pangeran Ternate yang kelak berjuluk “Penguasa 72 Negeri” itu lahir. Dia adalah Sultan Baabullah, Sang Penakluk dari Timur Nusantara.

Pada 25 Februari 1570, Sultan Khairun datang tanpa pengawalan ketat ke Benteng Sao Paulo milik Portugis yang hanya berjarak sekitar 5 kilometer istananya. Sang sultan sama sekali tidak mengira bahwa undangan perdamaian dari Gubernur Portugis di Ternate, Lopez de Mesquita, itu ternyata jebakan dan berujung petaka.

Seperti yang direncanakan, de Mesquita mengajak Sultan Khairun berbincang. Tanpa diduga, Antonio Pimental yang tidak lain adalah keponakan gubernur, perlahan mendekat dari belakang dan dengan cepat menusukkan kerisnya. Sultan Khairun tersungkur bersimbah darah. Tubuhnya dibuang ke laut malam itu juga.

De Mesquita rupanya tak sadar, tindakan liciknya itu akan membawa kehancuran yang mengerikan bagi Portugis.

Sultan Khairun Jamil diangkat dari lautan dalam kondisi mengenaskan. Pangeran Baab, sang putra mahkota, membopong sendiri jenazah ayahnya sembari berucap dalam hati: dendam harus dituntaskan!

Kemudian para pejabat tinggi istana dan para pemuka masyarakat segera bersepakat untuk menobatkan sang putra mahkota, Pangeran Baab pun resmi menjadi penguasa Kesultanan Ternate dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah.

Saat itu juga di atas singgasananya, Sultan Baabullah bersumpah akan membalaskan dendam sang ayah dan mengusir bangsa penjajah. Ia tidak akan berhenti berperang sebelum orang Portugis terakhir pergi dari wilayah kerajaannya. 

Sang sultan baru tak main-main. Strategi tempur segera dirancang. Tak cuma berniat menghancurkan lawan di area sekitar Ternate saja, ia juga bertekad mengalahkan Portugis yang ada di seluruh Kepulauan Maluku. Ambon, Seram, Bacan, Banggai, Buton, Luwik, Sula, Halmahera, hingga Celebes dikondisikan untuk menyiapkan serangan besar-besaran.

Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga meminta bantuan Makassar, Jawa, hingga Melayu (Sumatera), untuk bersama-sama melenyapkan kaum kolonialis dari bumi Maluku. Sultan mengobarkan Perang Soya-Soya atau perang pembebasan negeri dengan menyiapkan 2000 armada perahu tempur beserta lebih dari 120.000 prajurit.

Sejak 1571, pos-pos Portugis di berbagai tempat dihancurkan. Benteng penjajah pun satu per satu dapat direbut, dari Fort Tolocce, Santo Lucia Fortress, hingga Santo Pedro, tinggal Sao Paulo yang tersisa. Baabullah memang sengaja tidak langsung menyerang benteng yang didiami de Mesquita sekaligus lokasi pembunuhan ayahnya itu.

Sultan Baabullah menerapkan strategi pengepungan untuk Sao Paulo dengan menutup semua akses, baik jalan maupun distribusi bahan makanan yang dibatasi dalam jumlah tertentu. Benteng yang dibangun pada 1525 ini memang berlokasi tidak jauh dari pusat kesultanan dan termasuk ke dalam wilayah ibukota Ternate. 

Pengepungan Benteng Sao Paulo berlangsung selama 5 tahun. Selama itu pula, orang-orang Portugis yang tinggal di dalamnya merasakan penderitaan yang teramat sangat dengan segala keterbatasan karena tidak bisa menjalin hubungan dengan dunia luar.

Sultan Baabullah akhirnya memberi kesempatan kepada para penghuni benteng untuk pergi dari wilayah Ternate dalam waktu 24 jam. Sementara bagi mereka yang sudah beristrikan wanita lokal boleh tetap tinggal tapi harus mengabdi kepada kerajaan.

Setelah 15 Juli 1575, Ternate telah bersih dari orang-orang Portugis. Pamor Portugis di Ternate dan sebagian besar Kepulauan Maluku runtuh total. 

Penguasa 72 Negeri

Luas wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate di era pemerintahan Sultan Baabullah juga semakin bertambah. Bahkan, di luar kepulauan tersebut, masih cukup banyak kerajaan yang akhirnya memilih bernaung di bawah panji-panji Kesultanan Ternate. Sultan Baabullah menempatkan perwakilannya yang disebut Sangaji di berbagai daerah, termasuk Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, juga di wilayah Timor Leste sekarang.

Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga punya perwakilan yang ditempatkan di Jawa dan Sumatera, sampai Papua. Di Papua sendiri ada cukup banyak daerah yang berhasil dirangkul, seperti Raja Ampat, Sorong, Biak, Jayapura, dan Merauke.

Wilayah taklukan Kesultanan Ternate juga membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah hingga Kepulauan Marshall di kawasan Mikronesia, dekat Australia. Filipina bagian selatan alias Mindanao juga berhasil ditundukkan. Seorang peneliti Belanda bernama Valentijn merinci setidaknya ada 72 wilayah atau kerajaan yang berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate. Dari situlah Sultan Baabullah memperoleh julukan sebagai “Penguasa 72 Negeri” 

Meskipun sangat berkuasa, namun Sultan Baabullah tidak lantas menutup pintu rapat-rapat bagi orang-orang dari Eropa yang kemudian datang. Mereka tetap dirangkul dan dipersilakan menjalin kerja sama, tapi tidak diberi hak-hak istimewa seperti yang dulu pernah dinikmati oleh bangsa Portugis.

Comments to: SULTAN BAABULLAH

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.